Sudah jadi rahasia umum jika kondisi ekonomi dunia sedang tidak stabil karena konflik yang terjadi di Timur Tengah. Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada hampir semua sektor ekonomi, termasuk harga bahan baku plastik.
Hasilnya, grafik harga biji plastik terus naik drastis. Misalnya untuk harga polyethylene, pada tanggal 27 Februari 2026 harganya masih ada di kisaran Rp162,3 jutaan per ton. Namun pada 12 Maret 2026, harganya naik jadi Rp202,8 jutaan per ton.
Dampak Perang di Timur Tengah pada Kondisi Ekonomi Dunia
Seperti pada penjelasan di atas, alasan utama kenapa harga bahan baku plastik naik adalah karena perang yang terjadi di Timur Tengah. Perang ini membuat Iran menutup salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Jika Anda memerhatikan berita terkini dan/atau media sosial, Anda pasti tahu kalau penutupan Selat Hormuz ini sangat berdampak pada distribusi minyak dunia. Pasalnya, banyak kapal pembawa minyak harus melewati selat ini untuk sampai ke negara lain.
Jumlahnya pun tidak main-main karena Timur Tengah adalah salah satu eksportir minyak terbesar di dunia. Totalnya, sekitar 20-30% minyak melewati selat ini setiap hari sehingga sangat mengganggu proses distribusi dan berdampak pada kenaikan harga minyak.
Namun ternyata, bukan hanya distribusi dan harga minyak saja yang terhambat akibat situasi di Timur Tengah memanas. Pasalnya, harga biji plastik per kg pun naik karena proses distribusi yang terganggu. Bukan hanya di Indonesia saja, tapi juga di seluruh dunia.
Kenapa Harga Bahan Baku Plastik Naik?
Anda sudah tahu bahwa harga biji plastik per ton naik, dari Rp162,3 jutaan jadi Rp202,8 jutaan hanya dalam jangka waktu beberapa hari. Alasannya pun jelas, yaitu karena situasi politik di Iran yang kian memanas akibat konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
Hasilnya, harga bahan baku plastik pun naik karena beberapa faktor berikut selama perang masih berlangsung!
1. Supply yang Tidak Pasti
Alasan pertama kenapa harga bahan baku plastik PP dan jenis plastik lainnya naik adalah karena supply yang tidak pasti. Pada situasi normal, Anda akan bisa memperkirakan berapa banyak bahan baku yang akan diimpor ke Indonesia dan ke seluruh dunia.
Hanya saja, selama perang jumlah impor bahan baku plastik seringkali mengalami ketidakpastian. Hal ini mengingat apa bahan baku dari plastik, yaitu turunan dari minyak bumi dan gas alam. Kebanyakan impornya berasal dari Timur Tengah yang sedang memanas.
Para pengusaha sudah paham kalau menghentikan produksi secara absurd bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar. Akibatnya mereka harus mengamankan supply lebih awal dan menambah safety stock dengan segera agar bisa tetap melakukan produksi.
2. Waktu Pengiriman yang Lebih Panjang
Sebelum perang terjadi, kapal yang mengangkut minyak bumi dan gas alam bisa melewati Selat Hormuz setiap hari. Namun kini aksesnya terbatas, sehingga tidak semua kapal bisa lewat. Beberapa kapal harus menempuh jarak yang lebih panjang.
Hal ini membuat para supplier ragu untuk melepas volume bahan baku plastik, mengingat segalanya jadi terasa tidak pasti. Jumlah permintaan tidak sesuai dengan jumlah penawaran, mengingat perlu waktu lebih panjang hingga bahan baku sampai di tujuan.
3. Kenaikan Harga Minyak Mentah
Karena jumlah permintaan dan penawaran minyak yang tidak seimbang, secara otomatis harganya akan naik. Sayangnya, Anda tidak akan bisa membuat plastik tanpa minyak mentah. Jadi, meskipun harganya naik Anda tetap memerlukan bahan ini.
Hasilnya, jika Anda bertanya-tanya berapa harga bahan baku plastik saat ini, nilainya naik drastis dari sebelumnya. Harga standar yang berlaku pada tanggal 12 Maret 2016 adalah Rp202,8 jutaan dan bisa saja terus naik selama konflik belum mereda.
4. Kenaikan Biaya Logistik Global
Bukan hanya harga minyak mentah dan bahan baku plastik lainnya saja yang naik, namun juga biaya logistik. Pada situasi politik yang panas seperti di Timur Tengah saat ini, perusahaan logistik dunia tidak ingin mengambil risiko yang terlalu saat saat pengiriman.
Hasilnya, kebanyakan perusahaan logistik menerapkan war risk insurance atau asuransi risiko perang karena kapal mereka akan melewati jalur konflik. Hal ini bisa membuat biaya pengiriman lebih mahal, mengingat risiko yang dihadapi jauh lebih besar.
Penutup
Itulah beberapa dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga bahan baku plastik di dunia. Harganya naik drastis karena supply yang tidak pasti, waktu pengiriman yang jauh lebih panjang, hingga kenaikan harga minyak mentah dan ongkos logistik global.Meskipun harganya naik, namun Anda tidak perlu khawatir soal kualitas plastik di PT. Plastik Karawang Flexindo. Anda tetap bisa mendapatkan plastik yang bening, alot, rapi, dan kuat di tengah situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil seperti sekarang.